Cegah Pedagang Curang, Disperindagkop Batang Gelar UTTP

Seorang petugas sedang melakukan uji timbangan. Sumber: Pemkab Batang.

Kandeman – Uji tera ulang pada alat ukur, takar, timbangan, dan perlengkapannya (UTTP) di Pasar Gorong Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang digelar pada Rabu (28/8/2019) oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop dan UKM) Kabupaten Batang.

Pengujian ini wajib dilakukan bagi pemilik timbangan secara berkala setiap tahunnya. “Kegiatan tera ulang UTTP atau timbangan ini untuk meminimalisir kecurangan pedagang di pasar-pasar,” ujar Kepala seksi Kemetrologian Bidang Perdagangan Disperindagkop Kabupaten Batang, Andari Rooska Yuseffina.

Pelayanan tera ulang UTTP atau timbangan ini untuk menguji kelayakan timbangan yang dimiliki pedagang. Jika tak lolos uji akan dilakukan reparasi timbangan sampai lolos uji.

Dilansir dari laman Pemkab Batang, Andari Rooska meminta pemilik timbangan agar menggunakan timbangan sesuai dengan fungsinya. Pihaknya juga menghimbau konsumen untuk lihai melihat timbangan dengan tanda tera sah pada saat barang yang dibelinya ditimbang.

“Sanksi untuk pemilik timbangan yang melakukan perbuatan memakai UTTP atau timbangan yang bertanda batal atau yang tidak bertanda tera sah yang berlaku atau tandanya rusak akan dipidana penjara 1 tahun atau denda Rp1 juta,” terangnya.

Lindungi Konsumen

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Pasal 4 ayat 4 tertulis hak konsumen untuk mendapat informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.

Hak konsumen diatas harus dipenuhi oleh pedagang, termasuk mengetahui timbangan yang benar. hal tersebutlah yang bisa mengurangi kasus kecurangan dalam transaksi jual beli. Menurut M. Nur Rianto Al-Arif dan Euis Amalia, kecurangan dalam timbangan termasuk penipuan kuantitas, artinya menjual barang dengan kuantitas sedikit namun dengan harga barang kuantitas banyak.

Yayasan Layanan Konsumen Indonesia (YLKI) pada laman resmi menuliskan Indeks Keberdayaan Konsumen (IKK) konsumen di Indonesia masih rendah, yakni hanya skor 40,41. Bandingkan dengan IKK Malaysia yang sudah mencapi skor 57, atau Korea Selatan dengan skor 63.

Dalam setiap agama pun tidak dibenarkan untuk mengurangi timbangan barang. Maka dengan adanya uji tera dan UU tersebut diharapkan bisa menaikan angka IKK tersebut agar bisa memperdayakan konsumen.

Add Comment