Didim Dimyanudin Ajari Karang Taruna Sambong Olah Sampah

Proses pembuatan paving berbahan plastik. Sumber: Pemkab Batang.

Sambong – Sebagai pegiat lingkungan, tentu membuat hati Didim Dimyanudin terketuk ketika melihat sampah yang berserakan. Ia memanfaatkan sampah plastik sebagai bahan untuk membuat paving block, plastik yang awalnya menuai masalah bersama kini bisa mendulang rupiah. Ilmu tersebut dibagikannya dalam kegiatan Pelatihan Pemanfaatan Bank Sampah di Kelurahan Sambong, Kabupaten Batang didepan para remaja Karang Taruna setempat, akhir November kemarin.

Didim menegaskan bahwa harga paving plastik yang lebih mahal bukanlah untuk bisnis melainkan demi lingkungan. “Untuk membuat satu buah paving block membutuhkan takaran sampah plastik sebanyak 2-3 kilogram, dan jika nantinya akan dijual seharga Rp5.000,00 per buah atau Rp98.000,00 per meter persegi, karena 1 meter isinya 28 paving block segi enam,” terangnya.

Henry Dunanto, Lurah Sambong sendiri selama ini telah berupaya mengubah pola pikir masyarakat untuk tidak buang sampah sembarangan. Pihaknya pun sangat senang dengan adanya pelatihan ini, ia berharap nantinya kantong plastik bisa didaur ulang sehingga Kelurahan Sambong lebih bersih dan asri.

Semua Melirik Paving Block Plastik

Awalnya, pengolahan sampah plastik menjadi paving block merupakan buah karya dari warga Desa Jetis, Kemangkon, Purbalingga bernama Karsin. Karsin yang pada awal tahun 2003 mengalami kecelakaan truk sehingga mengakibatkan tulang kakinya patah ini iseng memanaskan sampah plastik kering diatas wajan sang istri. Setelah meleleh, plastik tersebut dicetak dan dipres kemudian didinginkan menggunakan air.

Dilansir dari salah satu portal media online, paving block milik Karsin tersebut mampu menahan beban hingga 13 ton. Ia pun menjualnya dengan harga Rp 3.500,00 pada awal kemunculannya. Barulah setelah Karsin, muncul sejumlah pihak turut ikut membuat paving berbahan plastik. Hingga pada tahun 2018, CV Sipbangga asal Purbalingga memproduksi paving ini dalam skala besar. Pihaknya bekerja sama dengan beberapa bank sampah yang ada disana, mereka pun telah mencapat bantuan dana dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk pengembangan usaha.

Ada pula, tiga sekawan genius yang tidak hanya membuat paving dari plastik namun juga menciptakan mesin untuk memproduksinya. Ketiga sekawan tersebut ialah Aziz Pusantaraka (lulusan Master Lingkungan Institut Teknologi Bandung tahun 2012), Angga Nurdiansah (lulusan D3 Pengecoran Logam Politeknik Manufaktur Negeri Bandung tahun 2010), dan Daman Sutiawan (lulusan D3 analis kimia Politeknik Akademi Kimia Analis Bogor).

Pada Oktober 2018, ketiganya berhasil menyabet juara II dalam event salah satu produsen kopi di Indonesia. Mereka pun mendapat uang sebesar Rp 100 juta, uang tersebutlah yang kemudian menjadi modal ketiganya untuk memproduksi eco paving dan juga menjual mesin produksinya. Paket mesin yang mereka tawarkan berupa satu mesin pencacah sampah plastik, satu mesin injection, dan satu mesin extruder.

Add Comment