Gerlimtus Dorong Siswa Hadapi Revolusi 4.0

Salah satu anggota Gerlimtus memberikan motivasi kepada pelajar SMP N 3 Batang. Sumber: Humas Pemkab Batang.

Proyonanggan Selatan – Gerakan Lima Ratus (Gerlimtus) sendiri dicetuskan oleh alumni SMP N 3 Batang. Mereka menyisihkan sebagian rezekinya untuk turut membantu siswa berprestasi maupun yang kurang mampu lewat beasiswa. Beasiswa tersebut berasal dari sumbangan alumni dengan jumlah minimal 500 perak.

Pada kesempatan kali ini, Gerlimtus menyambangi sekolahnya dulu untuk memotivasi adik-adiknya agar siap menghadapi zaman millenial ini. Acara tersebut diisi oleh beberapa narasumber seperti Mochammad Najmul Afad selaku dosen IAIN Pekalongan dan Adhitya Wisnu Pramono alumni yang telah sukses di bidang telekomunikasi. Penyampaian motivasi dilaksanakan di aula SMPN 3 Kabupaten Batang, Sabtu (30/11/2019).

“Hari ini di tengah karakter bangsa yang semakin carut-marut, puncak segala keilmuan adalah patuh kita kepada orang tua dan guru. Kalau tidak patuh ya percuma pintar dan kaya raya,” tegas Najmul Afad yang juga dulu sempat berjualan donat untuk memenuhi biaya kuliahnya.

Berbeda dengannya, Adhitya Wisnu Pramono justru menilai perlu adanya jiwa pantang menyerah dalam diri pelajar untuk bisa menghadapi tantangan abad millenial. Menurutnya seperti yang dilansir dari laman Pemkab Batang, mereka yang biasa hidup dengan bekerja keras maka jiwanya akan lebih tahan banting. Dirinya pun tidak lupa menyarankan pelajar SMP N 3 Batang untuk menguasai keahlian bidang digital, karena memang sebentar lagi akan memasuki era revolusi industri 4.0.

Kurangi Arus Urbanisasi

Data Kemendikbud 2010, terdapat 1,8 juta anak Indonesia tidak dapat melanjutkan sekolah setiap tahunnya. Alasannya ialah faktor ekonomi, mereka terpaksa bekerja untuk ikut menopang ekonomi keluarga ataupun terpaksa menikah pada usia dini.

Memang, kesenjangan pendidikan antara kota dan daerah terpampang secara nyata. Terlebih sekolah bagi anak kebutuhan khusus, sekolah ini menjadi barang langka di daerah terpencil dan kepulauan. Menyikapi hal tersebut, H. A. R. Tilaar menilai perlunya pendidikan demokratis. Sistem pendidikan ini memandang bahwa seluruh rakyat Indonesia berhak untuk memperoleh pendidikan berkualitas dengan kemampuan dan bakatnya masing-masing. Jadi pendidikan demokratis tidak tertuju pada standar kepintaran yang selama ini diterapkan.

Menurut Anies Baswedan, sulitnya akses pendidikan di beberapa daerah menjadi alasan derasnya arus urbanisasi. Bukan hanya pendidikan, minimalnya fasilitas yang ada pun menjadi alasan terjadinya urbanisasi. Oleh karena itu, ia menilai sudah saatnya akses pendidikan dibuka selebar-lebarnya disertai dengan fasilitas yang mendukung program tersebut.

Dilansir dari salah satu laman beasiswa untuk Amerika Serikat, Anies menyebutkan bila sekolah hanya berada di ibukota kecamatan maka sudah dipastikan mereka yang tempat tinggal jauh pasti tidak sekolah. Pada akhirnya akan berpengaruh terhadap sumber daya manusia yang ada dan ujungnya pun mereka akan memilih jalan urbanisasi agar mendapat akses pendidikan yang lebih baik.

Add Comment