Karang Taruna Sambong Ikuti Sosialisasi PHBS

Pemberian materi oleh salah satu petugas gizi di Puskesmas Batang I. Sumber: Humas Pemkab Batang.

Sambong – Remaja Karang Taruna Desa Sambong mengikuti acara kaderisasi dari Puskesmas Batang. Pada kesempatan tersebut, mereka diajarkan untuk membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Acara digelar di aula Kelurahan Sambong, Kabupaten Batang, Rabu (27/11/2019) kemarin ini disambut baik oleh Lurah Sambong, Henry Dunanto. Ia pun berharap dengan adanya sosialisasi PHBS tersebut bisa lebih menerapkan pola hidup yang sehat, sehingga Indonesia siap maju dan bersaing dengan bangsa lain.

Petugas gizi di Puskesmas Batang 1, Vena menilai meski remaja masih terlihat sehat, tidak ada salahnya bila PHBS diterapkan sedini mungkin agar nanti ketika senja masih tetap produktif. Menurutnya, kebiasaan tidak sehat yang sering diterapkan adalah pola makan yang serba instan. Makanan cepat saji ini bisa menyebabkan berbagai penyakit degeneratif.

Vena juga mengingatkan generasi muda untuk tidak asal mengonsumsi jenis makanan. “Walaupun masih muda, kita harus mencetak generasi tua yang tetap sehat, dengan tetap mengkonsumsi makanan yang sehat,” tandasnya.

Erwin, salah satu anggota Karang Taruna Desa Sambong yang sadar manfaat hidup sehat. Penuturannya yang dilansir dari laman Pemkab Batang, makanan cepat saji yang dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan kolesterol tinggi.

“Makanan yang telah dikonsumsi dalam tubuh, harus dilakukan pembakaran dengan melakukan aktivitas fisik, di antaranya rutin berolahraga, atau jika tidak mempunyai banyak waktu dapat diganti dengan aktivitas sehari-hari yang membuat tubuh kita bergerak, sehingga badan terasa lebih sehat,” ujarnya.

Tentukan Prestasi Anak

Sekitar tahun 1960-an, Prof. Poorwo Soedarmo mencetuskan konsep gizi dengan makanan 4 sehat 5 sempurna. Namun, kini istilah tersebut telah berganti nama dengan Pedoman Gizi Seimbang. Perubahan ini juga gencar dikampanyekan baik lewat sosialisasi maupun iklan di televisi, hal tersebut berkaitan dengan tingginya kasus stunting di Indonesia.

Sementara, anak Indonesia masih banyak yang apatis dalam hal memilah makanan. Apalagi dalam kurikulum pendidikan dasar di Indonesia belum mengajarkan ilmu gizi secara profesional. Ditambah program pendidikan gizi yang selama ini pemerintah laksanakan belum pernah dievaluasi, apakah berpengaruh terhadap perubahan kebiasaan makan pada anak atau tidak. Pernyataan tersebut disampaikan Soekirman dalam bukunya yang berjudul Ilmu Gizi dan Aplikasinya.

Sudah saatnya warga Indonesia mulai mengganti makanan sehari-hari mereka dengan makanan yang jauh lebih sehat. Tak ada salahnya bila mengonsumsi makanan cepat saji namun bukan berarti hal itu bisa dijadikan sebagai pola makan keseharian. Dalam penelitian Amelia dkk di Bogor tahun 1969 menemukan bahwa anak yang mengalami kurang energi protein, yang berarti juga bermasalah terhadap pemenuhan gizinya, mengalami hambatan dalam perkembangan fisik maupun intelektual.

Dalam bukunya, Mursid menuliskan bahwa yang menjadi pola makan pada masyarakat nantinya juga akan menjadi pola makan anak. Oleh karena itu perlu diperhatikan kandungan gizinya agar mampu tumbuh kembang dan hidup dengan sehat. Terlebih, gizi yang cukup berpengaruh terhadap kesehatan dan kecerdasan anak. Inilah mengapa pengetahuan PHBS juga perlu diberikan kepada para remaja, selain untuk menjaga dirinya selalu sehat, mereka juga bisa menerapkannya pada saat sudah berkeluarga nanti.

Add Comment