Populasi Tawon Balung Meningkat, dr. Maharani: Itu karena Sampah

Pekalongan – Kepala Departemen IGD RSU Daha Husada Kediri Jawa Timur, dr. Tri Maharani memberikan penjelasan mengenai cara penanganan sengatan Tawon Vespa Affinis. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada para petugas kesehatan dan pemadam kebakaran di Ballroom Hotel Sahid Mandarin Kota Pekalongan, Senin (9/12/2019).

Diketahui, dr. Tri Maharani secara khusus diundang oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Batang. Dalam kesempatan itu, disampaikan bahwa untuk menanggulangi populasi tawon yang semakin banyak maka perlu adanya pengelolaan sampah yang baik. Menurutnya, dengan terciptanya lingkungan bersih dari sampah akan mengurangi makanan dan nutrisi tawon tersebut. Sehingga sudah dipastikan, tawon tidak akan membuat sarang disekitar tempat tinggal.

dr. Maharani juga menjelaskan bagaimana cara menangani sengatan serangga ini. “Jika luka sengatan Tawon Vespa Affinis tambah lebar dan memerah, segeralah dibawa ke tempat pelayanan kesehatan. Kalau terjadi pembengkakan tapi belum fase sistemik, masih lokal saja, mereka akan diberikan analgesik (obat pereda nyeri) dan antihistamin,” terangnya, dikutip dari laman Pemkab Batang.

Selain itu, Public Safety Center (PSC) 119 juga perlu dilibatkan dalam masalah Tawon Vespa Affinis tersebut. Kepala Dinkes Kabupaten Batang, Hidayah Basbeth menuturkan meski kasus yang sama belum terjadi di Batang namun pencegahan dini perlu dilakukan.

Alasan Meledaknya Populasi Tawon Vespa Affinis

Akhir-akhir ini publik dikagetkan dengan meninggalnya 10 orang asal Klaten karena sengatan tawon. Jenis tawon yang menyengat mereka bernama latin Vespa Affinis, masyarakat Jawa Tengah biasa menyebutnya dengan tawon ndas/balung. Jangan tanya sesakit apa sengatannya karena ternyata tawon jenis ini memiliki racun yang bisa digunakan untuk memanggil teman koloninya agar ikut menyengat.

Serangga jenis ini memiliki panjang tubuh sekitar 3 cm, lebih besar dari ukuran tawon lainnya. Warnanya hitam seperti jenis tawon lainnya, hanya saja ada paling mencolok pada tubuhnya yakni warna kuning atau orange yang melingkar pada perutnya. Seret warna inilah yang memudahkan manusia untuk mengenalinya. Termasuk serangga sosial yang hidup berkoloni hingga ribuan tawon dalam satu sarang, tak heran jika banyak ditemui sarang tawon dengan ukuran yang tidak biasa.

Dilansir dari laman Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, habitat tawon balung bisa ditemukan di tepian hutan dan tebing-tebing. Sementara dari berbagai pemberitaan media online, habitat tawon ini sebenarnya adalah di hutan dataran rendah. Namun tak jarang, sarangnya juga ditemukan di atap-atap rumah. Menurut Dinkes Provinsi Jawa Tengah, sarang tawon balung bisa dikenal dengan bentuknya yang menyerupai buah pir atau bentuk tetesan. Sarang memiliki bungkus/lapisan tebal dengan lapisan kecil melingkar yang tumpang tindih. Panjangnya bisa mencapai lebih dari 50 cm.

Hari Nugroho, seorang peneliti tawon dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan kemungkinan mengapa terjadi ledakan populasi tawon di daerah pemukiman. Alasan pertama jelas karena hilangnya habitat asli mereka akibat pengalihan tata guna lahan. Kemudian disusul dengan berkurangnya predator alami tawon, perubahan iklim, dan juga faktor sumber makanan.

Menurutnya, terkadang tawon juga  memakan bangkai baik sisa bangkai maupun fermentasi. Tentu, tumpukan sampah dengan bau yang menyengat akan menjadi rumah yang baik untuk berkembang biak mereka. Tak heran bila dr. Maharani meminta kita untuk selalu menjaga lingkungan agar bersih dari sampah. Menurutnya, sampah organik berupa daging; ayam; ikan; nasi; dan sayur menjadi sumber makanan dan nutrisi bagi Tawon Vespa Affinis.

Add Comment