Wakil Bupati Batang Peringati Hari Disabilitas Internasional di Reban

Reban – Berdasarkan ketetapan ┬áPerserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1992, hari Disabilitas Internasional diperingati setiap tanggal 3 Desember. Tahun ini, Kabupaten Batang turut memperingati peringatan tersebut di Aula Kantor Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Selasa (03/12/19).

Peringatan ini turut dimeriahkan dengan pementasan paduan suara dari anak penyandang disabilitas saudara Wartono Thole serta penampilan dari Trio Muspika Kecamatan Reban. Kesempatan ini juga dimanfaatkan pemerintah setempat untuk memberikan bantuan kepada para penyandang Disabilitas berupa kursi roda, tongkat krek dan sembako.

Menteri Sosial, Juliarti Batubara saat peringatan HDI meminta kepada kepala daerah untuk mengeluarkan peraturan daerah yang ramah bagi penyandang disabilitas. Wakil Bupati Batang, Suyono pun menyanggupi bahwa pihaknya akan membuka pelatihan untuk para penyandang disabilitas dan juga membuka lapangan pekerjaan, serta akan memodali bagi mereka yang tertarik untuk berwirausaha.

Ciptakan Masyarakat Inklusif

Masih hangat pemberitaan Fazlur Rahman, mahasiswa pascasarjana UHAMKA yang jatuh terperosok saat hendak naik kereta listrik di Stasiun Cikini, Minggu (17/11/2019) . Terperosoknya Alun, sapaan akrabnya, diduga karena kelalaian petugas yang kurang memahami bahasa komunikasi mereka.

Menurut Alun, meski sudah diberi pelatihan untuk melayani penyandang disabilitas namun jika orang jarang berinteraksi dengan penyandang disabilitas maka akan hilang kesensitifan dan kepekaan mereka. Jadi mungkin tidak mungkin, kejadian serupa akan terulang kembali suatu saat nanti, pernyataan diatas dikutip dari beberapa pemberitaan mengenai Fazlur Rahman.

Kejadian diatas menjadi indikator masih rendahnya perhatian terhadap penyandang disabilitas. Padahal kodrat manusia adalah makhluk sosial, dimana ia tidak bisa hidup seorang diri dan sangat membutuhkan bantuan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Dilansir dari website Dinas Sosial Provinsi Riau disampaikan bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia hidup dalam lingkungan inklusif jadi sudah sepantasnya kita memiliki sikap yang inklusif.

Inklusif berarti menerima atas keberagaman budaya, bahasa, gender, ras, suku bangsa, strata ekonomi, termasuk disabilitas yang memiliki perbedaan dalam hal kemampuan fisik / mental. Ini berarti setiap orang dalam masyarakat memerlukan cara berbeda berupa layanan dan sarana khusus yang sesuai dan tepat dengan keunikan dan keperluan khususnya

Oleh karena itu, Direktur LBH Jakarta, Febi Yonesta, S. H. menilai perlu adanya perbaikan lingkungan fisik serta peningkatan kepedulian dan sensitivitas masyarakat masyarakat untuk menuju kesetaraan martabat. Diharapkan nantinya masyarakat akan lebih bisa sensitif akan keberadaan penyandang disabilitas sehingga masyarakat inklusif tercipta untuk membantu penyandang disabilitas.

Add Comment