Kedai Bakoel Jamu, Sajikan Jamu dengan Konsep yang Berbeda

Ginanjar Saputra, Pemilik Kedai Bakoel Jamu di Desa Tambahrejo, Kecamatan Bandar. BATANGKAB

Jamu, merupakan minuman tradisional yang bahan utamanya berasal dari tanaman herbal yang banyak dijumpai di lingkungan sekitar. Jamu adalah salah satu representasi kearifan lokal yang berkembang di masyarakat, karena memiliki manfaat yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Penggunaan bahannya yang berasal dari alam juga dinilai lebih menyehatkan, karena tidak memiliki efek samping.

Di indonesia, pemanfaatan bahan-bahan tradisional untuk dijadikan obat, seperti jamu sudah dilakukan sejak zaman dahulu oleh masyarakat. Pengetahuan masyarakat akan tanaman yang menjadi bahan dasar pengolahan jamu diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Minuman jamu kemudian dipertahankan dan dikembangkan oleh masyarakat hingga saat ini.

Istilah jamu sendiri berasal dari dua kata yaitu, ‘Djampi’ yang artinya penyembuhan dengan menggunakan ramuan obat-obatan, doa-doa, atau aji-aji dan ‘Oesodho’ yang artinya kesehatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, jamu didefinisikan sebagai obat yang terbuat dari akar-akaran, daun-daunan, dan sebagainya. Bahan-bahan tersebut kemudian diracik dan dihidangkan dalam bentuk minuman.

Mulanya, proses pengolahan jamu hanya dilakukan dengan merebus bahan yang kemudian dihidangkan dalam bentuk minuman. Seiring berjalannya waktu dengan perkembangan teknologi yang lebih modern, jamu kemudian dikemas dalam bentuk serbuk dan kapsul agar dapat dikonsumsi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Tetapi, akibat adanya perkembangan tersebut juga membuat eksistensi jamu mengalami penurunan yang signifikan di masyarakat. Semakin hari minat masyarakat, terutama anak muda dalam mengonsumsi jamu semakin rendah, hal ini disebabkan oleh kehadiran obat-obatan modern yang semakin berkembang.

Keampuhan obat modern yang dianggap lebih cepat dalam menyembuhkan penyakit menjadikannya sangat populer di kalangan masyarakat. Apalagi dalam dunia kedokteran, obat-obatan modern selalu diberikan kepada pasiennya sebagai resep utama untuk penyembuhan.

Jamu sebagai salah satu bukti tapak tilas perjalanan kehidupan nenek moyang terdahulu, saat ini jejaknya semakin menghilang dan terus bergeser menuju kepunahan. Pergeseran kebudayaan yang terus berkembang mengikuti perubahan zaman serta pilihan menerapkan pola hidup serba instan menjadi tren di masyarakat sehingga mengakibatkan keterpurukan bagi dunia perjamuan.

Melihat hal ini, Ginanjar Saputra, yang merupakan salah satu pemuda di Kabupaten Batang berinisiatif untuk mengolah jamu dengan cara yang berbeda. Ia ingin kembali meningkatkan eksistensi jamu dengan membangkitkan tren minum jamu di kalangan anak muda.

Menyajikan Jamu dengan Cara yang Berbeda

Ginanjar kemudian mendirikan sebuah kafe jamu yang diberi nama ‘Kedai Bakoel Jamu’. Kedai Bakoel Jamu ini berada di Desa Tambahrejo, Kecamatan Bandar, Batang. Ia memulai usaha ini karena melihat semakin kesini peminat jamu semakin sedikit, Ginanjar yang berasal dari keluarga peracik jamu kemudian ingin menaikkan kelas jamu dengan memodifikasi rasa dan kemasan yang menarik untuk anak muda.

Kedai ini merupakan salah satu usaha Ginanjar dalam mengupayakan hal tersebut, di kedai ini para pengunjung bisa nongkrong sambil menikmati berbagai olahan jamu yang disediakan.

Kedai Bakoel Jamu juga mengolah jamu dengan cara yang berbeda, jamu yang dikenal sebagai olahan tradisional yang memiliki rasa pahit dan getir, diubah oleh Ginanjar menjadi sebuah minuman yang lebih modern. Dengan memadukan fermentasi rempah alami dengan bahan-bahan yang segar, membuat rasa jamu yang dihidangkan bisa lebih familiar dengan lidah anak muda.

Ada berbagai olahan jamu yang disajikan, diantaranya Jae Geprek yang merupakan olahan jahe murni yang di geprek, Jae Kunir yang merupakan campuran jahe dan kunir, Jae Temulawak, Jae Sereh, Jae Coklat dan masih banyak olahan lain yang memadukan antara bahan alami dengan bahan lain yang memiliki cita rasa unik, tetapi tidak menghilangkan khasiat dari jamu itu sendiri.

Menu andalan kedai ini adalah Jae Ale, merupakan fermentasi jahe murni tanpa pengawet dan pemanis buatan yang dikemas dalam bentuk botolan. Ada juga Limoon Jae yang memadukan rasa segar antara jeruk dan jahe. Kedua menu ini telah berhasil terjual ribuan botol dan disukai masyarakat karena memiliki rasa dan khasiat yang luar biasa.

Tidak hanya sekadar nongkrong, jika berkunjung ke Kedai Bakoel Jamu, para pembeli bisa langsung melihat cara dan proses meracik jamu secara langsung, “Konsep dari kedai jamu ini selain tempat nongkrong yang asyik juga memberikan edukasi kepada konsumen cara meracik serta khasiat jamu yang terbuat dari rempah alami,” ujar Ginanjar Saputra.

Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, mulai dari Rp6000 hingga Rp15000 pembeli sudah bisa menikmati berbagai olahan jamu yang enak. Ginanjar mengungkapkan, hingga saat ini kedainya berhasil menarik minat anak-anak muda dalam mengonsumsi jamu. Ia juga berharap minat masyarakat terhadap jamu bisa terus meningkat, agar minuman tradisional warisan leluhur ini tidak hilang ditelan zaman.

Add Comment