Ecobrick: Solusi Kreatif Olah Sampah Plastik

Saat ini produk ecobrick dibentuk menjadi berbagai perabotan rumah seperti kursi, meja, hingga pengganti batu bata dalam pembuatan rumah. EN.WIKIPEDIA.ORG

Perkembangan teknologi, industri, serta peningkatan penduduk yang semakin hari semakin tinggi membuat penggunaan plastik dan barang-barang berbahan plastik, mengalami peningkatan secara terus-menerus sejak produk plastik pertama kali ditemukan pada tahun 1907. Peningkatan penggunaan plastik juga terjadi di Indonesia, kebutuhan plastik di Indonesia mencapai kenaikan rata-rata hingga 200 ton setiap tahunnya.

Adanya peningkatan penggunaan plastik ini menyebabkan peningkatan pada jumlah sampah plastik. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menerangkan setiap harinya ada 0,8 kg sampah yang dihasilkan dari masing-masing individu yang tinggal di Indonesia. Angka tersebut jika di total, jumlahnya mencapai 189 ribu ton sampah yang dihasilkan setiap harinya. Dari kalkulasi tersebut terdapat sampah berupa plastik sebanyak 15% atau mencapai 28,4 ribu ton sampah berupa plastik tiap harinya.

Dari banyaknya sampah plastik yang dihasilkan, hanya ada 20-30 persen sampah yang bisa dikelola oleh pemerintah. Sisanya, hanya akan tertimbun selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Nugroho, dkk (2007) mendefinisikan sampah sebagai produk sisa yang tidak memiliki nilai guna dari aktivitas manusia, sehingga manusia hanya akan berusaha menyingkirkan sampah yang ada agar hilang dari pandangannya.

Tetapi yang kemudian menjadi masalah saat ini adalah keberadaan sampah sudah sangat banyak, tertimbun, menciptakan bau tak sedap, mengganggu estetika, kerusakan serta pencemaran terhadap lingkungan, bahkan sampah-sampah tersebut mengandung zat berbahaya yang dapat mengakibatkan gangguan kelestarian serta kesehatan kehidupan manusia dan lingkungan.

Permasalahan sampah ini semakin menjadi serius apabila tidak dicarikan solusinya. Penanganan sampah plastik yang sudah lama dikampanyekan seperti 3R (Reuse, Reduce, Recycle) sejauh ini tidak terlalu digubris oleh masyarakat. Keterlibatan masyarakat dalam mengurangi pemakaian dan mendaur ulang plastik masih sangat minim.

Kebanyakan masyarakat hanya akan membakar sampah plastik yang ada untuk memusnahkannya dari pandangan. Padahal, jika pembakaran plastik tidak sempurna (dibawah 800°C) dapat membentuk dioksin, yaitu senyawa yang dapat memicu kanker, hepatitis, pembengkakan hati dan gangguan sistem saraf

Reuse diartikan sebagai penggunaan produk plastik yang berulang, selama barang itu masih belum rusak dan masih bisa digunakan. Reduce adalah mengurangi pembelian atau penggunaan barang-barang dari plastik, terutama barang-barang yang sekali pakai. Recycle merupakan daur ulang barang-barang yang terbuat dari plastik. Penerapan Recycle inilah yang kemudian dipilih sebagai langkah awal ecobrick sebagai salah satu solusi kreatif untuk memanfaatkan sampah plastik.

Mengenal Ecobrick

Ecobrick adalah salah satu cara penanganan limbah plastik dengan cara mengemas plastik yang bersih dan kering ke dalam botol plastik hingga menjadi padat dan kuat. Saat ini produk ecobrick dibentuk menjadi berbagai perabotan rumah seperti kursi, meja, hingga pengganti batu bata dalam pembuatan rumah.

Ecobrick dibuat dengan cara memasukkan plastik yang sudah dibersihkan dan kering ke dalam botol Polietilen Tereftalat (PET) atau botol minum yang biasa ditemui. Dalam pembuatan ecobrick tidak diperlukan keahlian khusus serta bahan yang diperlukan bersumber dari aktivitas masyarakat sehari-hari.

Adanya penerapan ecobrick di masyarakat membuat sampah plastik yang sebelumnya hanya ditangani oleh orang-orang tertentu (pemulung, orang-orang dari kelas lebih rendah, kotor dan gelap dari berbagai tempat), menjadi berubah. Melalui ecobricks, lebih banyak orang, lebih banyak kelompok, tidak peduli apa kelas sosial mereka, menjadi tertarik untuk bekerja pada sampah plastik, terutama yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita bisa membuat ecobrick dengan mulai mengumpulkan botol plastik bekas dan juga sampah plastik lainnya terlebih dahulu. Limbah plastik yang akan digunakan kemudian dicuci bersih dan dijemur, setelah itu mulailah memasukkan plastik seperti kresek, bungkus kemasan, atau sedotan kedalam botol plastik.

Pastikan tidak ada logam, kertas, gelas, dan plastik biodegradable (plastik yang bisa terurai). Plastik yang dimasukkan kedalam botol kemudian didorong dengan tongkat kecil agar isinya menjadi padat. Masukkan juga plastik berwarna, plastik berwarna ini akan memberikan warna yang artistik saat ecobrick ‘dibangun’. Setelah botol tersebut penuh, tutup kembali dengan tutup botol yang ada.

Produk ecrobrick yang dimanfaatkan sebagai bangku. Foto: Sekartaji

Adanya ecobrick ini bisa membangun kesadaran secara massal, menjadi gerakan masyarakat di segala lini dan jalur, karena membuat ecobricks tidak membutuhkan skill khusus, dan tanpa biaya, karena berangkat dari bekas konsumsi sehari-hari, bisa dilakukan kapan saja, dan bisa juga dikerjakan bersama-sama maupun sendiri sambil melakukan kegiatan sehari-hari lainnya, sembari mengisi waktu.

Pemanfaatan Ecobrick di Kabupaten Batang

Di Kabupaten Batang pemanfaatan ecobrick sudah berlangsung sejak 2021. Kesadaran masyarakat Batang untuk mengolah sampah plastik ini diinisiasi oleh anggota Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Batang. Sejak tahun lalu, kelompok ini rajin mengunggah hasil ecobrick yang diproduksinya ke dalam website www.gobrick.com.

Laman tersebut merupakan sebuah aplikasi yang diinisiasi oleh Global Ecobrick Alliance (GEA), komunitas yang peduli terhadap biosfer dan bahaya polusi plastik bagi bumi. Komunitas ini tersebar di seluruh dunia dengan satu misi yang sama yaitu, mengurangi sampah plastik dan juga penggunaannya untuk menjaga bumi.

Sejak saat itu, nama Kabupaten Batang melejit karena anggotanya rajin mengekspos hasil ecobrick yang telah diubah menjadi benda-benda bermanfaat bagi masyarakat ke website tersebut. Principal GEA, Ani Himawati mengutarakan, aplikasi gobrick telah dimanfaatkan oleh 151 negara untuk mendaftarkan ecobricknya. Ia mengapresiasi, warga Kabupaten Batang paling banyak mengirimkan data hasil pemanfaatan ecobrick.

Kesadaran kelompok TP PKK Kabupaten Batang berhasil mengolah sampah plastik di tahun 2021 yang jumlahnya mencapai 100 ton menjadi produk-produk ecobrick yang berguna dan bisa digunakan oleh masyarakat. Data tersebut bisa dilihat di aplikasi www.gobrick.com yang juga mencantumkan jumlah konsumsi plastik suatu daerah.

Raih Peringkat Dua Dunia

Berkat ketelatenan dan semangat yang disalurkan Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga dalam pengolahan ecobrick membuat Kabupaten Batang menduduki peringkat kedua dunia dalam pemanfaatan botol plastik atau ecobrick. Peringkat tersebut berdasarkan data yang diperoleh dari laman https://www.gobrick.com.

Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Batang kemudian menyambut baik respons tersebut dengan menggelar Training of Trainers (TOT) Ecobrick. Pelatihan ini ditujukan untuk perwakilan 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Batang. Ketua TP PKK Batang, Uni Kuslantasi Wihaji mengatakan, training ini sebuah upaya membangun kesadaran masyarakat untuk meminimalkan penggunaan plastik agar tidak menjadi sampah.

Training ini menghadirkan langsung Global Ecobrick Alliance (GEA) untuk membantu mengedukasi para trainer di tiap kecamatan, agar mampu membuat ecobrick yang berkualitas dan bertahan hingga ratusan tahun. Training ini dilakukan selama dua periode, dari hasil training ini nantinya akan menghasilkan 105 trainer yang tersebar di 15 kecamatan, yang akan mengedukasi warga hingga tingkat desa.

Principal GEA, Ani Himawati sangat mengapresiasi warga Kabupaten Batang dalam hal ini, karena secara kuantitas paling banyak mengirimkan data hasil pemanfaatan ecobrick di tahun 2021. “Artinya, warga Batang paling banyak menyelamatkan bumi dari pencemaran sampah plastik,” ungkapnya.

Add Comment